Teori Hukum

Kontribusi Warisan Intelektual Peradaban :

YUNANI-ROMAWI, JUDEO-KRISTIANI DAN ISLAM

Terhadap Pembentukan Tradisi Keilmuan dan Pemikiran Politik Barat[1]

 

Arnold Toynbee berpendapat bahwa peradaban barat dewasa ini lahir dari puing-puing kehancuran peradaban Yunani-Romawi. Peradaban barat merupakan kelahiran kembali peradaban Yunani-Romawi. “With disintegration, kata Toynbee, comes rebirth”. Apa yang disebut ‘dunia barat’ (the west) dewasa ini merupakan sempalan dari Imperium Romawi Bizantium yang terbelah menjadi dua: Bizantium Barat (Western Byzantium) dan Bizantium Timur (Eastern Byzantium), atau Konstantinopel.[2]

Mengapa terjadi ‘kelahiran kembali’? Toynbee berasumsi bahwa suatu peradaban tak ubahnya seperti makhluk organis: lahir, berkembang, matang dan pada akhirnya mengalami proses pembusukan. Maka, dalam sejarah umat manusia bisa ditemukan banyak ‘tengkorak-tengkorak peradaban’ yang terkubur dalam sejarah selama ribuan tahun. Meskipun telah menjadi tengkorak, peradaban tersebut akan mampu melahirkan kembali peradaban baru. Toynbee mengekspresikan kelahiran kembali suatu peradaban dengan simbol Cina Yin-Yang:

“The tranquility of Yin gives rise to the creativity of Yang, followed by the disintegration back to a new Yin. The rhythm continues without end, but rebirth is not repetition.”[3]

Ada kekuatan sejarah yang memungkinkan terjadinya ‘kelahiran kembali’ sebuah peradaban, yaitu terdapatnya minoritas kreatif (creative minority) dalam puing-puing suatu peradaban yang mampu meresponse secara positif berbagai tantangan lingkungan (environmental challenges). Semakin canggih kemampuan minoritas kreatif itu merespon tantangan, akan semakin canggih pula bentuk peradaban yang dilahirkan kembali itu. Asumsi teoritis inilah yang oleh Toynbee dinamakan Teori Tantangan-Response (Challenge-response theory).[4]

Blum, Camerun dan Barnes[5] berteori bahwa suatu peradaban lahir dan ditransmisikan melalui proses-proses sosial. Pertumbuhan suatu peradaban pada dasarnya merupakan proliferasi dan elaborasi semua unsur- unsur yang terkandung dalam peradaban itu. Unsur-unsur itu merupakan produk interaksi sosial atau karena proses transmisi dari suatu peradaban lain. Proses ini terjadi melalui perdagangan, atau migrasi massal. Penaklukan bisa juga melahirkan peradaban baru. Umumnya, negara penakluk memiliki peradaban yang lebih tinggi dapat mentransmisikan peradabannya kepada negara (masyarakat) primitif.

Ketiga penulis World Civilizations itu lebih jauh menjelaskan :

“The confrontation of relatively primitive society by an advanced or ‘civilized’ society usually result in at least a partial adoption by the former of the civilization of the latter. If, however, the civilised society is feeble it may succumba and its civilization may expire. A Civilization is seldom completely obliterated; some of its elements are incorporated into the culture of the more primitive society and help bring about the evolution of new civilization.[6]

Mirip dengan perspektif teoritis diatas, kelahiran kembali suatu peradaban juga bisa dilihat dari perspektif interaksi simbolik antara suatu peradaban yang telah menjadi puing-puing sejarah dengan peradaban-peradaban besar yang masih hidup. Melalui interaksi itu peradaban-peradaban yang masih hidup “meniupkan ruh” kepada peradaban yang telah menjadi puing-puing sejarah itu. Proses interaksi simbolik ini terjadi ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun. Bisa juga terjadi kelahiran kembali suatu peradaban sebagai akibat pertukaran budaya (cultural exchange) diantara berbagai peradaban dunia. Tidak penting apakah suatu peradaban lebih banyak belajar dan mengambil manfaat dari peradaban lain dalam proses pertukaran budaya itu. Dari titik tolak perspektif inilah kita bisa melihat kelahiran kembali peradaban barat sebagai sebuah produk konvergensi berbagai peradaban dunia.

Dalam konteks kelahiran dan perkembangan peradaban barat itu, Roger Garaudy menyebut 3 pilar peradaban barat. Yaitu, peradaban Yunani, Judeo-Kristiani dan Islam. Alasannya, menurut Garaudy karena barat adalah suatu kebetulan. Kebudayaannya adalah sesuatu hal yang tidak wajar, karena tidak mempunyai dimensi yang asli.[7]

 

KONTRIBUSI WARISAN INTELEKTUAL PERADABAN YUNANI-ROMAWI

 

Barat berhutang budi kepada peradaban Yunani-Romawi, sebagaimana kedua peradaban terakhir berhutang budi pada peradaban-peradaban kuno Mesopotamia, Mesir, India, Kreta, Persia.[8] Barat berhutang budi kepada Yunani-Romawi hampir dalam semua aspek peradaban dan tradisi keilmuannya: seni, sains, filsafat, etika, politik, kedokteran, matematika dan lain-lain. Pandangan hidup barat (western way of life) dewasa ini, pada satu sisi, bisa dilihat sebagai kelanjutan pandangan hidup orang-orang Yunani; cita-cita kebebasan, optimisme, sekularisme, pengagungan terhadap jasmani dan akal serta pengkultusan pada individualisme. Tradisi keagamaan barat saat ini juga memantulkan secara transparan tradisi keagamaan Yunani kuno yang memandang agama sepenuhnya bersifat duniawiyah, praktis, mengabdi pada kepentingan manusia (bukan Tuhan).[9]

Tradisi keilmuan Yunani-Romawilah yang telah memberikan kepada barat metode-metode eksperimental dan spekulatif yang peranannya sangat fundamental dalam pengembangan pengetahuan. Melalui karya-karya para sarjana dan filosof Yunani-Romawi, barat mengenal Empirisme dan Rasionalisme. Yunani lah yang mengajarkan kepada barat agar menempatkan akal di atas segalanya, akal sebagai sumber kebenaran dan lain-lain.

Dalam bidang filsafat politik, para filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles mempengaruhi pemikiran dan filsafat politik barat sejak kelahirannya hingga perkembangan  dewasa ini. Jejak pengaruh Aristoteles, misalnya, bisa dilacak dalam karya Machiavelli, The Prince (Sang Pangeran), gagasan perlunya pemisah kekuasaan (seperation of powers) Montesquieu dalam L’Esprit de Lois (Semangat Hukum), Teori Hegel tentang Konstitusi Negara sebagai ekspresi kesadaran diri negara, gagasan Marx tentang hubungan antara ekonomi dan politik, dan gagasan-gagasan barat sekitar Konservatisme progressif maupun kritik-kritik terhadap demokrasi egalitarian.[10]

Bagi Alfred North Whitehead, seperti ditulis Rapar, sejarah seluruh filsafat barat hanyalah rangkaian dari catatan kaki (footnote) dari kedua pemikir Yunani itu, Plato dan Aristoteles.[11] Karya Aristoteles, khususnya Politics merupakan sumber inspiratif bagi perumusan teoritis konsep bentuk-bentuk negara, hakikat pemerintahan, hukum-hukum yang mengontrol negara, revolusi sosial dan lain-lain. Di sisi lain, warisan intelektual Yunani mempengaruhi secara substansial lahirnya perkembangan gerakan intelektual seperti Renaisans, Reformasi dan lain-lain. Peristiwa-peristiwa itu merupakan tonggak-tonggak terpenting sejarah pemikiran barat. Gagasan barat mengenai negara (state), kekuasaan politik, keadilan, demokrasi secara genealogis intelektual juga bisa dilacak dari tradisi politik negara-negara kota Yunani klasik yang dinamakan polis atau city states.

Sumbangan terbesar peradaban Romawi kepada pemikiran barat, terutama di bidang pemikiran sistem hukum dan lembaga-lembaga politik. Pengaruh keduanya, terutama pemikiran sistem hukumnya, terlihat dalam berbagai kajian dan praktek hukum di berbagai negara Eropa Barat seperti Perancis, Italia, Swiss, Jerman, Belanda dan Amerika Selatan. Bahkan, secara langsung atau tidak, negara-negara Commonwealth atau bekas jajahan negara-negara Eropa, seperti Indonesia yang dijajah Belanda misalnya, mempraktekkan hukum-hukum Romawi. Belanda menerapkan teori hukum di Indonesia yang berasal dari Code Civil Napoleon yang merupakan produk modifikasi hukum-hukum Romawi.

Ada 3 bentuk pemikiran hukum Romawi yang mempengaruhi pemikiran hukum barat.

  1. Jus Civile, hukum sipil yang secara khusus diberlakukan untuk kalangan sipil dan warga negara Romawi, bukan warga negara lain.
  2. Jus Gentium, yaitu hukum yang diberlakukan untuk semua orang, terlepas apapun kewarganegaraannya. Tidak memandang nasionalitas seseorang. Hukum ini memperkokoh dan memberikan legitimasi kepada keberadaan lembaga-lembaga perbudakan, partnership dan kontak-kontak. Pada hakikatnya, Jus Gentium bersifat suplemen terhadap Jus Civile.
  3. Jus Naturale, suatu prinsip filsafat hukum yang menganggap keadilan dan kebenaran selamanya sesuai dengan tuntutan rasional dan hakikat alam. Dalam filsafat hukum ini, semua orang memiliki hak-hak dan kedudukan sama di mata hukum dan pemerintah (negara) tidak berhak mengintervensi hak-hak hukum itu.[12]

Kodifikasi Justinianus (527-565. AD) juga dirasakan amat berpengaruh terhadap pemikiran hukum barat. Sharma melukiskannya sebagai berikut :

“It was a very comprehensive code and it influenced very greatly the legal system of western Europe. It is aply said that” if there is anything besides the life of Christ and the teaching of Bible, which has most profoundly influence and moulded western civilization, it is the corpus juris, on the code of Justinian”[13]

Romawi, lanjut Sharma, sebenarnya hanya membuat pemikiran spekulatif Yunani menjadi praktis dan dapat diterapkan (applicable) serta mensistematisasi berbagai pemikiran Politik Yunani berkaitan dengan pembentukan hukum positif, pemisahan politik dengan etika, agama dengan hukum, pembedaan antara masyarakat dan negara, kedaulatan politik dan personalitas negara sebagai pembuat hukum.[14]

Dari segi pemikiran politik Romawi memberikan pemahaman kepada barat tentang Teori Imperium. Teori Imperium adalah teori tentang kekuasaan dan otoritas negara (state authority) dimana kedaulatan dan kekuasaan dianggap sebagai bentuk pendelegasian kekuatan rakyat kepada penguasa negara. Maka, menurut teori ini pada hakikatnya kedaulatan sepenuhnya milik rakyat. Penguasa politik hanyalah lembaga yang dipercayakan untuk memegang (bukan menguasai dan mendominasi) serta mempergunakan kedaulatan demi kebaikan seluruh rakyat. Penguasa bertanggung jawab kepada rakyat dan secara otomatis akan kehilangan legitimasi seandainya praktek kekuasaannya menyalahi kehendak rakyat. Menurut teori ini rakyat memiliki hak-hak politik yang sama (equal rights) dan merupakan esensi tertinggi kedaulatan negara.[15]

Dalam kerangka pemikiran inilah Romawi mengembangkan gagasan kontrak pemerintah (governmental contract) yang kemudian dijadikan model teoritis bagi para pemikir politik barat seperti John Locke, J.J. Rousseau dan Hobbes dan lain-lain. Bagi perkembangan pemikiran dan teori politik barat, teori imperium juga menempati posisi sentral, sebab gagasan barat mengenai perlunya pemisahan entitas individu dengan negara, negara dibutuhkan demi eksistensi sosial, individu merupakan pusat pemikiran hukum dan perlindungan sangat kuat dipengaruhi oleh gagasan atau teori imperium Romawi itu.[16]

Berdasar teori imperium ini, kekuasaan gereja abad pertengahan dikembangkan. Organisasi kekuasaan dan keagamaan gereja Katholik diadaptasi dari konsep imperium Romawi. Pengadaptasian warisan Romawi itu nampak pada gelar yang digunakan Paus ‘Supreme Pontiff’ (Pontifex Maximus); kaisar sebagai pemimpin agama warga negara.[17]

 

KONTRIBUSI WARISAN INTELEKTUAL PERADABAN JUDEO-KRISTIANI

Peradaban Judeo-Kristiani merupakan peradaban kedua yang meletakkan dasar-dasar intelektual dan filosofis yang kokoh bagi pembentukan dan perkembangan peradaban barat.

Max Dimont, pakar sejarah peradaban Jahudi dengan tulisannya Jews, God and History[18] dan The Instructable Jews,[19] menjadi rujukan penting dalam membahas topik ini, Dimont menjuluki orang-orang Jahudi sebagai ‘the historic people’. Yaitu, orang-orang yang melahirkan peristiwa-peristiwa sejarah, menjadi subjek dan bukan objek peristiwa-peristiwa itu, melalui gagasan-gagasan brilian yang mereka kemukakan. Dimont menulis :

“The Jews have remained a historic people through centuries because they have always been active agents instead of passive bystanders……… The Jews were not only acted upon history. They created ideas that indelibly imprinted themselves upon the face of the world and effected the future of mankind”.[20]

Sulit untuk menyangkal pendapat Dimont. Fakta-fakta sejarah memang menunjukkan peran historik itu. Para Nabi dan Rasul Tuhan yang diutus ke dunia sebagian besar adalah keturunan Jahudi.  Dari Nabi Daud, misalnya, lahir para nabi dan rasul yang memiliki peranan sentral dalam proses pembentukan peradaban manusia. Rasul Paulus yang dijuluki sebagai ‘pendiri agama Kristen’ (Founder of Christianity), dan formulator konsep Trinitas (kesatuan tiga oknum; Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus) adalah juga keturunan Jahudi.

Agak sulit menentukan kapan persisnya orang Jahudi memainkan peran historisnya dalam sejarah pertumbuhan peradaban barat. Ada hipotesis bahwa peran itu dimulai ketika orang-orang Jahudi berdiaspora ke berbagai penjuru Eropa terutama di kawasan Italia, sekitar Mediterania dan wilayah-wilayah bekas jajahan imperium Romawi dan imperium Islam. Di kawasan imperium Islam Andalusia Spanyol, peran itu dimulai ketika peradaban ini melahirkan filosof terkemuka Jahudi, Musa Ibnu Maimun, atau Maimonides di abad XII-XIII.[21] Karya-karya Maimonides selama ratusan tahun mempengaruhi secara signifikan perkembangan pemikiran dan filsafat pengetahuan dan keagamaan di barat. Spinoza, filosof barat keturunan Jahudi yang gagasan-gagasannya sangat mempengaruhi filsafat barat modern, merupakan murid tak langsung Maimonides. Meskipun Spinoza tidak pernah bertemu dan berguru dengan filosof Jahudi Andalusia itu – karena mereka hidup tidak sezaman – dia banyak belajar dari Maimonides. Itu terlihat dari gagasan-gagasan filosofisnya menunjukkan pengaruh kuat Maimonides.

Orang-orang Jahudi juga berperan dalam proses kelahiran peradaban Renaisans Eropa (Abad XIV-XIV). Mereka yang bermukim di Italia, Florence dan kawasan sekitarnya selama berabad-abad berhasil membangun kota-kota baru. Di kota-kota itu mereka melakukan aktifitas perekonomian seperti perdagangan, banking, ekspor-impor barang-barang kebutuhan hidup dan bergerak dalam dunia pemikiran. Orang-orang Jahudi, meskipun merupakan kelompok minoritas, menunjukkan keterlibatannya yang intens dalam dunia pendidikan, pengajaran dan publikasi ilmiah. Sebagian mereka menjadi avantgarde intelektual, salah seorang tokohnya yang terkemuka adalah Reuchlin. Dari kegiatan ini kemudian terjadilah perkembangan intelektual dan ekspansi Kapitalisme di kawasan Italia yang lambat laun menciptakan kondisi kondusif bagi lahirnya gerakan Renaisans Eropa.[22]

Di Abad XVIII terjadi kontak intelektual antara pemuda-pemuda terpelajar Yahudi dengan peradaban Yunani-Romawi dan Islam. Orang-orang Jahudi ini menenggelamkan diri dan bergulat dalam tradisi pemikiran peradaban-peradaban itu dan mengambil manfaat besar dari kontak intelektual itu. Merekapun berhasil melahirkan gagasan-gagasan cemerlang dari perguruan intelektual itu. Dimont melukiskan bagaimana usaha orang-orang Jahudi itu meluaskan minat kajian keilmuan mereka dari sains ke kajian ilmu-ilmu sosial maupun literatur. Yang menarik, demikian tulis Dimont, mereka ingin ‘membaratkan’ diri mereka tapi tanpa menjadi Kristen dan menciptakan suatu kebudayaan Jahudi yang bisa dimanfaatkan dunia barat.[23]

Di Abad XIX dan XX, minoritas Jahudi Eropa telah melahirkan tokoh-tokoh besar di berbagai bidang pengetahuan dan filsafat seperti Hegel, Marx, Sigmund Freud, Nietzsche Bertrand Russell, Schopenhauer, John Stuart Mill, Charles Darwin, Herbert Spencer, Henry Bergson, Albert Eisntein dan lain-lain. Dalam dunia intelektual barat mereka adalah pelopor utama (pendiri) aliran-aliran pemikiran (school of thoughts) seperti Marxisme, Liberalisme, Kapitalisme, Komunisme, Darwinisme, psikoanalisa dan Evolusionisme sosial. Di bidang pengetahuan seni lukis dan musik, minoritas Jahudi Eropa abad XIX dan XX telah melahirkan Goya, Turner, Delacroix, Renoir, Cezanne, Chopin, Wagner, Verdi Brahms. Di bidang kesusasteraan, dari ras yang sama lahir Geothe, Keats, Balzac, Shaw, Yeats. Karena jasanya kepada barat, dan dunia pada umumnya, sebagian mereka memperoleh hadiah nobel. Misalnya, Albert Einstein.[24]

Beberapa pemikir dan filosof Jahudi berkontribusi terhadap perkembangan pemikiran dan peradaban barat. Kontribusi di bidang filsafat sejarah, agama, sosial dan politik diberikan oleh Baruch Spinoza (pelopor Pencerahan Jahudi / Jewish Enlightment) abad XIX, Hegel dan Karl Marx.

Dalam dunia filsafat barat, Spinoza dianggap sebagai filosof yang meletakkan dasar-dasar pemikiran mengenai pembentukan masyarakat baru dan bebas, tetapi terikat (dan selaras dengan) oleh hakikat ketuhanan (Devine nature). Ia juga merintis lahirnya suatu agama sekuler bagi manusia modern dan mengajarkan bahwa akal (reason) dan intuisi dapat mengarahkan manusia pada kesatuan dirinya dengan sumber segala sesuatu yang disebutnya ‘the intellectual love of God’. Spinoza juga berhasil merumuskan a unified master science yang dapat diterapkan dalam berbagai kajian etika, politik, agama, fisika dan matematika.[25]

Hegel adalah pemikir Jahudi yang ajarannya – Hegelianisme – merupakan suatu aliran filsafat yang sangat berpengaruh pada tradisi intelektual Eropa sejak abad ke XIX hingga dewasa ini. Gagasan Francis Fukuyama dalam karyanya, The End of History and The Last Man[26] yang pernah menjadi best seller dalam kancah pemikiran kontemporer dewasa ini menunjukkan kuatnya pengaruh Hegel pada Fukuyama. Hegelianisme, di sisi lain, juga merupakan suatu aliran Neo-Idealisme. Hegelianisme bisa dianggap sebagai suatu kelanjutan faham Idealisme Plato. Melalui Hegelianisme, faham Idealisme Plato dilestarikan dalam sejarah pemikiran barat. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Hegelianisme merupakan dasar intelektual-filosofis Nazisme yang berkembang di Jerman menjelang Perang Dunia I.

Selain Hegel adalah Marx. Ia, sebagaimana Hegel, juga telah memberikan konstribusi luar biasa bagi perkembangan pemikiran barat. Tokoh Jahudi yang lahir di Jerman ini telah memberikan metodologi ilmiah dalam memahami perkembangan dan dinamika sosial, ekonomi dan sejarah kemanusiaan. Yaitu melalui gagasannya tentang Determinisme ekonomi, Materialisme sejarah, dialektika Materialisme, teori nilai lebih (surplus value) dan lain-lain. Marx merupakan tonggak penting dalam sejarah pemikiran Sosialisme ilmiah (Scientific Socialism) yang diklaim Marx berbeda dengan Sosialisme utopis (Utopian Socialism) yang dirintis oleh David Ricardo, Robert Owen, Saint Simon, Charles Fourier dan lain-lain. Ajarannya, Marxisme ternyata juga memberikan inspirasi bagi terbentuknya berbagai aliran pemikiran seperti Komunisme, Sosialisme demokrasi, Feminisme marxis, Kiri Baru (New Left), aliran Frankfurt (Frankfurt School) dan Marxisme Barat (Western Marxism). Ketika hidup, Marx mungkin tidak pernah membayangkan kalau pemikirannya akan mengubah wajah dunia dan melahirkan berbagai aliran pemikiran yang tidak saja mendominasi Eropa, tapi juga dunia itu.

Marxisme tidak lain merupakan modifikasi atau ‘reinkarnasi’ ajaran keagamaan Jahudi atau Judaisme. Konsep atau teori Marxisme yang fundamental, secara emosional berakar pada ajaran Judaisme. Russell membuktikan hal itu dengan mengemukakan analogi ajaran Marx dengan ajaran Judaisme. Untuk memahami Marx, menurut Russell, kita perlu menggunakan kamus berikut:[27]

Jahweh                                     : Dialectical Materialism

The Messiah                            : Marx

The Elect                                 : The Proletariat

The Church                             : The Communist Party

The Second Comming            : The Revolution

Hell                                         : Punishment of the Capitalist

The Millenium                         : The Communist Commonwealth

Selain kepada warisan Jahudi, peradaban dan tradisi pemikiran barat juga berhutang budi kepada warisan peradaban Kristiani. Salah satu fase penting dalam proses pembentukan peradaban barat adalah abad pertengahan (Mediavel Age). Banyak sejarawan menilai abad ini sebagai fase sejarah Eropa yang ‘kelam’, dipenuhi pertumpahan darah karena perang antar agama, abad anti-Intelektualisme dan maraknya takhayul dan Irrasionalisme. Meskipun demikian, patut dicatat bahwa di abad ini Eropa juga telah merintis jalan bagi terbentuknya suatu peradaban. Yaitu ketika mulai dibangunnya universitas-universitas, Katedral Gothic, kota-kota baru, parlemen-parlemen dan diberlakukannya common law, serta tumbuhnya negara-negara bangsa (nation-states). Peristiwa historis penting ini tak lepas dari peranan pada pemuka agama Kristen.

Organisasi gereja yang telah berkembang sejak agama Kristen diakui sebagai agama negara di kekaisaran imperium Romawi, juga mempunyai peran penting dalam sejarah peradaban Eropa. Organisasi gereja merupakan ‘elan vital’ abad pertengahan. Arti pentingnya, ia sejak abad-abad pertama perkembangannya, telah berhasil menstrukturisasi masyarakat Eropa menurut frame struktur organisasi gereja berikut semua lembaga-lembaga terkaitnya. Maka, tidak mengherankan bila masyarakat barat sering diidentikkan sebagai masyarakat Kristiani selama berabad-abad.

Gereja juga berperan penting ketika imperium Romawi Barat sedang mengalami proses kehancurannya. Gereja mengambil alih banyak fungsi penting imperium dan membantu mengendalikan berbagai kekacauan sosial akibat kehancuran imperium Romawi. Peran historis gereja itu yang menghindari Eropa dari kehancuran total sebagai sebuah peradaban manusia. Lembaga-lembaga gereja sebagaimana dicatat Barnes dan kawan-kawan, telah membantu mencivilisasikan (memperadabkan) suku-suku barbar (buas dan liar), memperkenalkan cita-cita luhur menyangkut keadilan sosial serta menjaga dan mentransmisikan kekayaan warisan kuno Yunani-Romawi, Islam dan lain-lain ke jantung peradaban barat.

Sumbangan penting Kristen lainnya adalah karena agama ini telah merintis barat untuk melahirkan ‘kebangkitan nalar’ pada abad XII dan XIII. Abad-abad itu merupakan abad keemasan ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Di sinilah pentingnya peran Thomas Aquinas sebagai pelopor kebangkitan nalar Eropa yang melahirkan abad keemasan itu. Barnes dan kawan-kawan[28] mencatat bahwa Aquinas merintis suatu aliran filsafat yang dikenal sebagai aliran Skolastisisme (Scholasticism). Aliran yang kemudian mendominasi abad pertengahan ini merupakan produk reinterpretasi atas karya-karya Aristoteles yang diketemukan dan diajarkan di universitas-universitas Islam Andalusia, Spanyol. Aquinas kemudian ‘mengawinkan’ filsafat pemikir Yunani itu dengan doktrin-doktrin Kristiani. Karya Aquinas, Summa Theologica, mencerminkan hal itu.

Lebih jauh Barnes dkk menjelaskan beberapa karakteristik aliran Skolastisisme ini:

  1. Rasionalistis, tetapi tidak empiris. Dengan kata lain, aliran ini dibangun atas dasar logika (logic), bukan sains (science) atau pengalaman-pengalaman (experiences). Dalam hal ini para filosof skolastik seperti Aquinas mengikuti para filosof dan pemikir Yunani kuno bahwa kebenaran tertinggi tidak bisa ditanggap melalui persepsi panca indera (sense perception). Panca indera menurut mereka memang bisa memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang apa-apa yang nampak, tetapi realitas atau hakikat esensial alam semesta (the essential nature of universe) hanyalah dapat dicapai melalui nalar/akal (reason).
  2. Skolastisisme mementingkan pendekatan etika. Sebab, tujuan manusia menurut etika skolastik adalah bagaimana manusia dapat hidup lebih baik, di dunia maupun kelak sesudah mati.
  3. Skolastisisme sangat perhatian terhadap usaha bagaimana menemukan atribut-atribut segala sesuatu; alam semesta diasumsikan statis. Maka, menurut aliran ini, yang penting adalah bagaimana bisa menjelaskan makna sesuatu, apakh sesuatu itu baik, tidak penting bagaimana proses terjadi dan asal muasalnya.[29]

Menurut Aquinas, inti Skolastisisme adalah ajaran tentang bagaimana mencari kebenaran. Katanya ada 2 cara untuk mengetahui kebenaran :

  1. Melalui wahyu (revelation). Wahyu, menyajikan manusia berbagai misteri yang dipercayainya berdasarkan keimanan semata; teks-teks kitab suci, ajaran-ajaran gereja merupakan jalan-jalan menuju pengetahuan akan kebenaran melalui wahyu ini.
  2. Melalui akal (reason). Yang dimaksud melalui akal adalah melalui pergulatan filsafat yang terus-menerus. Manusia dituntut terus-menerus mempertanyakan secara kritis berbagai persoalan yang menyangkut kebenaran. Mempertanyakan secara mendasar, metodologis, rasional.

Menurut Aquinas kedua cara itu tidak bertentangan satu dengan lainnya. Sebab, keduanya – wahyu dan akal – berasal dari sumber kebenaran yang sama, Tuhan. Metodologi mencari kebenaran melalui wahyu dan akal inilah yang menjadikan Skolastisisme mencapai puncak kejayaannya di dunia pemikiran barat di abad pertengahan.[30]

Puncak sumbangan agama Kristen kepada barat adalah peranan agama ini dalam melahirkan gerakan reformasi Protestan. Dengan tokoh-tokohnya antara lain: Marthin Luther, Zwingli, dan Calvin. Reformasi ini yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting sejarah pemikiran dan peradaban barat. Reformasi Protestan pada hakikatnya merupakan produk reinterpretasi terhadap doktrin-doktrin Katholik Ortodoks dan reaksi terhadap berbagai penyimpangan kekuasaan gereja. Banyak alasan sosial, ekonomi dan politik yang melatarbelakangi munculnya reformasi Protestan. Tetapi, sebagaimana tercatat dalam sejarah, gerakan intelektual keagamaan ini dimulai ketika gereja menjual surat-surat pengampunan dosa yang diprotes oleh Luther. Gerakan anti gereja ortodoks Luther ini kemudian berkembang menjadi gerakan keagamaan dan intelektual berskala massif.

Dasar pemikiran reformasi Protestan yang patut dikemukakan, karena menjadi dasar perkembangan peradaban Eropa, adalah ajaran tentang etika kerja, atau etos Kapitalisme yang dirumuskan oleh Johanes Calvin. Max Weber dalam karya monumentalnya, The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, menjelaskan mengapa etika protestan yang dirumuskan Calvin (Calvinisme) demikian penting bagi perkembangan kemajuan peradaban Eropa. Menurut Weber, Calvinisme mengajarkan bahwa kerja merupakan Panggilan Tuhan (Calling of God) (dalam bahasa Jerman, Beruf). Demikian juga sifat menghargai waktu, rasional dalam berpikir dan bertindak, berorientasi ke masa depan, hemat dalam kegiatan ekonomi sehari-hari adalah etika yang sepenuhnya sesuai dengan tuntutan doktrin-doktrin Kristiani. Jadi, menurut Weber terdapat ‘kesesuai’ (elective affinity) antara etika Kristiani dengan semangat (etos) Kapitalisme.[31]

Doktrin Reformasi Protestan ini berdampak luas pada perilaku ekonomi orang-orang Kristen di barat. Mereka menjadi pekerja dan pengusaha yang tekun bekerja, mengumpulkan harta dan hidup hemat tanpa merasa apa yang dilakukannya sebagai suatu kekeliruan. Dengan kata lain, etika Protestan telah dijadikan dasar doktrin bagi perkembangan Kapitalisme Eropa. Karena adanya perkembangan Kapitalisme itu, Eropa kemudian memiliki infrastruktur sosial ekonomi yang kokoh bagi terbentuknya proses civilisasi yang intens, perkembangan dunia pendidikan dan pemikiran yang relatif pesat.

 

KONTRIBUSI WARISAN INTELEKTUAL PERADABAN ISLAM

Warisan intelektual peradaban Islam merupakan pilar ketiga yang juga kontributif bagi lahirnya peradaban barat. Sebelum mengulas kontribusi Islam itu, akan diuraikan bagaimana warisan Yunani-Romawi, terutama yang diwakili Aristoteles dan Plato berpengaruh terhadap pemikiran Islam. Begitu berpengaruhnya peradaban Yunani-Romawi terhadap peradaban Islam sampai timbul asumsi bahwa peradaban Islam hanya ‘copy’ dan ‘kelahiran kembali’ peradaban Yunani-Romawi tapi plus kepercayaan pada keesaan Tuhan (Tauhid).

Ziya Gokalp misalnya berpendapat bahwa melalui terjemahan karya-karya pemikir Yunani Kuno, bangsa Arab muslim menyerap pengetahuan seni, filsafat, matematika, logika, kedokteran dan lain-lain. Pengaruh Yunani itu nampak misalnya dalam skisme intelektual yang terjadi di dunia Islam. Para pengikut aliran peri-petik adalah para pengikut ajaran Aristoteles sedangkan pengikut aliran iluminationis merupakan pengikut Plato. Kaum Mutakallimun (teolog) dipengaruhi ajaran filsafat atomistik Demokritus dan Epikurus sedangkan kaum Mistikus dipengaruhi ajaran Neo-Platonisme yang dikembangkan di Alexandria oleh Plotinus. Ada juga pengikut Phytagoras dan Zeno di dunia Islam, yaitu kaum Riwakiyyun (Stoik). Ibnu al Arabi, tokoh mistikus Islam Andalusia, sangat dipengaruhi oleh Plato. Karya Ibnu al Arabi, Akhlaq-i Nasiri, Akhlaq-i Jalali dan Akhlaq-i Ala’i, menurut Gokalp, pada dasarnya hanyalah ‘copy’ dari pemikiran Aristoteles.[32]

Pandangan Gokalp tentu saja layak dipertanyakan. Ada kesan ia ‘mendramatisasi’ pengaruh peradaban Yunani-Romawi terhadap peradaban Islam. Tetapi bukan tempatnya untuk mengomentari Gokalp dalam tulisan ini. Meskipun demikian, patut diakui bahwa pandangan Gokalp mengandung kebenaran. Kita tidak menyangkal adanya pengaruh itu. Adanya pengaruh Yunani-Romawi terhadap pemikiran Islam ini penting dikemukakan karena kontribusi warisan intelektual Islam yang diadopsi barat terjadi justru melalui karya-karya pemikir Islam yang menerima pengaruh peradaban Yunani-Romawi itu. Hanya saja persoalannya adalah: bagaimana sikap kaum muslimin menerima warisan intelektual Yunani itu.

Bagi para pemikir Islam klasik, bukanlah suatu kekeliruan menerima warisan intelektual dari manapun datangnya, termasuk yang berasal dari Yunani-Romawi itu. Bahkan, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah, umat Islam tidak alergis terhadap peradaban Mesopotamia, Bizantium, Persia, Hindu dan Cina. Kunci memahaminya karena pada hakikatnya Islam adalah agama inklusif, bersikap terbuka dan toleran terhadap berbagai pengaruh peradaban ‘asing’ sejauh tidak bertentangan dengan prinsip ketuhanan (tauhid) dan mampu memperkaya tradisi keilmuan Islam. Watak inilah yang membuat Islam memiliki self confident (percaya diri) yang tinggi dan bebas dari inferiority complex (rasa rendah diri) berhadapan dan berinteraksi dengan peradaban-peradaban dunia.

Watak Islam yang demikian ini pula lah yang menyebabkan penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi oleh proses penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukkan. Islam membiarkan, bahkan dalam tingkat tertentu, memperkaya peradaban-peradaban negeri-negeri taklukan itu. Tidak seperti yang dilakukan para penakluk Cina, kaisar Hulagu misalnya, yang secara biadab menghancurkan kekayaan khazanah intelektual, membakar perpustakaan-perpustakaan dan warisan sejarah Islam ketika berhasil menaklukkan kota Baghdad. Watak Islam yang demikian itu juga yang secara gemilang berhasil menaklukkan, mempersatukan dan mensintesakan berbagai peradaban dunia yang tumbuh subur mulai dari kawasan Andalusia Spanyol hingga dataran Cina.[33]

Umat Islam menerima secara kreatif warisan Yunani-Romawi, juga warisan peradaban negeri-negeri taklukan lainnya, karena watak mereka yang kosmopolit dan universalis. Mereka, seperti ditulis Nurcholish Majid, memandang diri mereka sebagai bagian dari seluruh kemanusiaan universal dan yang berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia. Dalam wujud historisnya sikap kosmopolitan dan universalis itu, menurut Nurcholis mengutip Halkin: “Adalah pujian untuk orang-orang Arab (baca: Muslim, pen.) bahwa meskipun mereka menjadi pemenang secara militer dan politik namun tidak memandang hina peradaban-peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan. Kekayaan budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka adaptasi ke bahasa Arab segera setelah mereka temukan. Para khalifah, gubernur dan lain-lain menjadi pelindung para sarjana yang melakukan kegiatan penerjemah, sehingga sangat luas ilmu bukan Islam dapat diperoleh dalam bahasa Arab”.[34]

Sekarang kita masuki persoalan bagaimana kontribusi warisan intelektual peradaban Islam terhadap pemikiran dan tradisi keilmuan barat. Sebelum abad ke XIII, pemikiran dan tradisi keilmuan barat sulit dikatakan modern dan progresif. Sebelum abad itu, Eropa masih diliputi abad-abad kegelapan (Dark Ages). Tradisi ilmiah masih dianggap musuh agama dan pengkhianatan terhadap ajaran Al Kitab dan Jesus Kristus. Para ilmuan tercerahkan kemudian menjadi korban keganasan inkuisisi gereja. Eropa mulai mengalami proses ‘pencerahan intelektual’ (intellectual enlightenment) setelah terjadi kontak dan interaksi intensif dengan peradaban Islam, baik melalui perdagangan maupun pengiriman mahasiswa barat ke dunia Islam.

Dalam konteks ini, Perang Salib (Crusades) selama dua abad merupakan salah satu tonggak penting dalam proses interaksi antara peradaban Islam dengan barat (Kristen). Dengan terjadinya perang itu mulai terjadi kontak dagang, pertumbuhan Merkatilisme dan proses pertukaran budaya (cultural exchange), meski tidak seimbang, antara kedua peradaban. Tidak seimbang sebab, barat jauh lebih banyak belajar dan mengambil manfaat dari interaksinya dengan dunia Islam, ketimbang sebaliknya. Kasus serupa juga terjadi beberapa abad sebelumnya, yaitu ketika panglima tentara Islam, Tariq Ibn Ziyad, menaklukan Spanyol dan membangun peradaban Islam di kawasan itu.

Selama tujuh abad (Abad VIII-XV), peradaban Islam Spanyol secara gemilang berhasil mentransmisikan kebesarannya ke penjuru Eropa. Dari pusat peradaban Islam Spanyol itu lah Eropa mulai merambah jalan ke arah pencerahan intelektual. Proses yang sama juga terjadi di pusat-pusat peradaban Islam lainnya, Sicilia, Kairo, Baghdad dan Alexandriah. Barat kemudian berhasil secara gemilang menghancurkan tembok-tembok dogmatik yang mengungkungnya selama berabad-abad  dan merintis jalan bagi usaha pengembangan pemikiran dan tradisi keilmuan.

Di abad-abad lampau kontribusi warisan intelektual yang satu ini agaknya enggan diakui, sebagai faktor penting yang ikut membidani lahirnya peradaban dan perkembangan tradisi pemikiran politik barat. Barat selama ratusan tahun menyangkal kontribusi warisan intelektual peradaban Islam ini. Hanya baru-baru ini saja mulai muncul banyak sarjana kritis barat yang secara objektif memperlihatkan bahwa Islam ternyata berperan penting menumbuhkan tradisi keilmuan dan peradaban barat. Di antara mereka adalah Roger Garaudy, Bernard Lewis, Maurice Bucaile, Marcel Boisard, Bertrand Russell, Louis Massignon dan lain-lain.

Garaudy menyatakan bahwa zaman Renaisans tidak mewarisi secara langsung ajaran-ajaran kebudayaan Yunani, sebab baru setelah melalui terjemahan dan komentar sarjana dan filosof Islam terhadap karya-karya pemikir besar Yunani, kebudayaan Yunani kemudian dijadikan objek kajian akademis zaman Renaisans. Kemudian Kristen juga bukanlah penerus fikiran Yunani dan Santo Thomas bukan pengganti Aristoteles. Juga, masih menurut Garaudy, Galileo pada abad XVII tidak menggerakan kembali evolusi sains yang terkatung-katung karena wafatnya Archimedes pada abad III SM.[35]

Melalui kebesaran peradaban Islam Spanyol dan Sicilia, Islam, menurut Garaudy yang selama seribu tahun telah menyuburkan masa lalu dan kemudian mempersiapkan masa depan. Islam telah memindahkan ke barat suatu peradaban yang telah dikelola selama seribu tahun. Perpindahan peradaban dari Spanyol dan Sicilia ke barat dimungkinkan karena usaha-usaha terjemahan iti dilakukan atas perintah Alphonse X Raja Castille. Di Sicilia, Michel Scotus menerjemahkan karya Ibnu Sina, Kitab al Hayawan (Livre des animaux) dan karya Ibnu Rusyd, Syarah (Commentaires) berisi komentar Rusyd terhadap karya-karya Aristoteles, karya-karya pemikir Islam inilah yang kemudian dijadikan titik tolak pandangan barat tentang alam[36] dan kajian-kajian penelitian eksperimental.[37]

Sumbangan intelektual Ibnu Khaldun bagi pengembangan tradisi pemikiran barat juga sangat berarti. Melalui karya monumental Muqaddimah, kepada barat, Khaldun telah menyumbangkan metodologi ilmiah berupa kajian teoritis empiris di bidang ilmu-ilmu sosial. Sarjana Muslim inilah yang selayaknya diakui sebagai perintis kajian sosiologi empiris. Bukan Auguste Compte yang lahir beberapa abad sesudahnya. Dalam metodologinya, Khaldun amat mengutamakan data-data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode observasi yang kesemuanya merupakan dasar-dasar pokok dalam penelitian keilmuan barat dan dunia pada umumnya.

Khaldun, menurut Garaudy, juga telah menunjukan adanya pengaruh iklim, geografi dan keadaan ekonomi terhadap kehidupan bangsa-bangsa, mempelajari struktur dan fungsi masyarakat bertitik tolak dari pembagian kerja, peranan solidaritas sosial (ashobiyyah) dalam pembentukan negara dan kehancuran kekuasaan imperium serta membuktikan bahwa perbedaan cara mencari kehidupan akan mempengaruhi adat kebiasaan dan fikiran bangsa-bangsa. Tentang yang terakhir, Khaldun telah memberikan formulasi teoritis mengenai faham Materialisme sejarah[38] yang dalam kajian pemikiran politik barat dikembangkan oleh Karl Marx dan Frederick Engels. Secara Metodologis, Khaldun diakui melebihi apa yang telah dilakukan Machiavelli dan Montesqiueu yang lahir beberapa abad sesudahnya.

Ibnu Haitham (Al Hazen) (965-1039) juga diakui sebagai ilmuwan Muslim yang berhasil mencerahkan tradisi pemikiran ilmiah barat. Haitham dilahirkan di Bashrah dan wafat di Kairo, Mesir adalah ahli Matematika, astronomi dan ilmu optik. Pengetahuannya telah membuka jalan bagi barat untuk merintis sains eksperimental. Roger Bacon, pemikir barat yang memperkenalkan dan merintis metode eksperimental di barat, belajar dari karya-karya Haitham ketika masih menjadi mahasiswa di universitas Spanyol Islam. Karyanya Opus Magnus banyak mengutip pendapat Haitham, terutama yang berkaitan dengan filsafat.[39]

Menurut penyelidikan J.B Bury,[40] barat juga berhutang budi kepada Islam dalam bidang Rasionalisme. Barat mengenai Rasionalisme setelah terjadi gelombang pengaruh intelektual dari dunia Islam pada akhir abad XII. Yaitu dengan diperkenalkannya ajaran-ajaran Ibnu Rusyd (Averroist) dikalangan terpelajar di Western Christendom. Bagi dunia barat Kristen, Ibnu Rusyd merupakan awal sedangkan bagi dunia Islam, ini agak mengherankan, tokoh itu merupakan akhir suatu perkembangan pemikiran filsafat.[41]

Ibnu Rusyd adalah rasionalis pengikut aliran Mu’tazilah yang gagasan-gagasannya sangat kuat dipengaruhi Aristoteles. Melalui Ibnu Rusyd dunia barat mulai menganut kebebasan berfikir dan menyerap kekayaan intelektual Yunani kuno. Ajaran Ibnu Rusyd tentang kekekalan benda (eternity of matter) dan kefanaan jiwa (immortality of the soul) atau Panteisme (Pantheism) telah melahirkan banyak pemikir bebas (freethinkers) dan berpengaruh terhadap para pemikir Eropa seperti Albertus Magnus dan Thomas Aquinas. Di bawah pengaruh Ibnu Rusyd, Aquinas secara cerdas mengadopsi secara sistematis tradisi keilmuan Islam menjadi bagian integral teologi skolastik ortodoks Kristen yang dikembangkan di Eropa pada abad pertengahan.

Kuatnya pengaruh Ibnu Rusyd terhadap peradaban Eropa (barat) diibaratkan Tan Malaka seperti pengaruh Marxisme pada zaman sekarang. Para murid Kristen yang selesai belajar ilmu pengetahuan dari filosof Muslim Arab Andalusia (Spanyol) kemudian kembali ke Eropa dianggap sebagai kaum revolusioner oleh pendeta-pendeta Kristen di negerinya.[42]  Mereka dijuluki revolusioner karena kedatangan mereka membawa perubahan-perubahan besar dan radikal bagi Eropa.[43]

[1]   dari berbagai sumber

[2] Arnold Toynbee, “Civilization on Trial”, dalam Somervell (ed.), Western Civilization, Nottingham: International University Socienty, n.d., hal. 5. Karya terbaik lainnya tentang retaknya Imperium Romawi, adalah karya Gibbon. Lihat Edward Gibbon, Decline and Fall of The Roman Empire, London: J.M Dent and Sons 1945, dan Will Duran, Story of Civilization Caesar and Christ, jilid 3 New York: Edition Services, A.A. Geneve Publisher, 1966. Di abad XV Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam (Kekhalifahan Usmaniyyah), dan sejak itu Islam mulai menguasai Eropa Timur dan Tengah. Sebelumnya (abad VII-VIII) Islam telah menaklukkan propinsi-propinsi Bizantium di Syiria, Tanah Suci (Jerusalem), Mesir, Afrika Selatan, Spanyol dan Sisilia. Lihat Albert Hourani, Islam dalam Pandangan Eropa, terj. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hal. 9.

[3] Dikutip Cooper, dalam Perel and Keith, Western Civilization, 1992, hal. 60.

[4] Lihat Toynbee, Study of History, Abridged by Somervell, New York a London: Deil publishing, 1974.

[5] Blum Camerun and Barnes, A. History of Western World, Boston, Toronto: Little Brown and Company, 1966.

[6] Ibid., hal. 3-4.

[7] Roger Garaudy, Janji-Janji Islam, terj. Prof. H.M. Rasyidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hal. 11.

[8] Ibid., hal. 11, Blum Camerun and Barnes, A. History, op. cit., hal. 3.

[9] Lihat Burns, Edward Manshal and Philiph Lee Ralph, World Civilization From Ancient to Contemporary, New York: Norton a co., 1964. hal. 242.

[10] Sharma, Western Political Thought, (Plato to Hugo grotius), New Delhi: Sterling Publishers Private Limited, 1982, hal. 84.

[11] D.D. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, Jakarta: Rajawali Press, 1993, hal. 30; lihat juga Sharma, Western, op. cit., hal. 84.

[12] Lihat Burns dan Ralph, World Civilization, op. cit., hal. 243.

[13] Sharma, Western, op. cit., hal. 97.

[14] Ibid., hal. 95.

[15] Ibid., hal. 99.

[16] Ibid., hal. 99.

[17] Burns dan Ralph, World Civilization, op. cit., hal. 302.

[18] Lihat Max Dimont, Jews, God and History, New York: The New American Library, 1962.

[19] Lihat Max Dimont, The Instructable Jews, The New American Library, 1971. Karya ini adalah salah satu kajian terbaik dalam menjawab “rahasia” kekuatan bangsa Jahudi sepanjang sejarahnya. Meski telah diluluhlantakkan berkali-kali dalam sejarah, bangsa Jahudi tetap menjadi bangsa yang tidak bisa dihancurkan (The Instructable Jews). Mereka tetap survive, sementara peradaban bangsa-bangsa Mesir Kuno, Mesopotamia, telah menjadi ‘tengkorak peradaban’ di masa kini.

[20] Dimont, Jews, op. cit., hal. 328-329.

[21] Filosof terkemuka Jahudi ini “berhutang budi” pada Islam karena ia lahir dan dididik oleh para guru dan filosof Muslim Andalusia. Lihat Lady Magnus, Outlines of Jewish History, London : Longman Green and Co., 1892.

[22] Lihat Dimont, Jews, op. cit., hal. 218.

[23] Jews, Ibid., hal. 344.

[24] Ibid., hal. 329. Khusus tentang sumbangan Jahudi bagi ilmu psikoanalisa lihat Peter Gay, A Godlless Jew Freud, Atheism and The Making of Psycoanalysis, Yale University Press, New Haven dan London in Association with Hebrew University College Press. Cincinati, 1987.

[25] Ibid., hal. 329.

[26] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, London: Hamish Hamilton, 1992; lihat juga tulisannya yang lain, “The End of History Debate, dalam The National Internet, No. 18 Winter 1989/1990.

[27] Bertrand Russell, History of Western Philosophy, London: Macmillan Co., 1994, hal. 361.

[28] Blum, Camerun and Barnes, A. History, op. cit., hal. 26.

[29] Burns and Ralph, World Civilization, op. cit., hal. 458.

[30] Blum, Camerun and Barnes, A. Histiry, op. cit., hal. 26.

[31] Lihat Max Weber, The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, trans. by Talcott Parson, London: Unwin University Book, 1967. Komentar kritis terhadap tesis Weber ditulis R.H. Tawney, Religion and the Rise of Capitalism, Pelican Book, 1937.

[32] Ziya Gokalp, Turkish Nationalism and Western Civilization, New York: Columbia University Press, 1954, hal. 273. Nurcholish Majid, berpandangan serupa dengan Gokalp, bahwa ilmu pengetahuan Islam khususnya falsafah Islam dipengaruhi oleh ajaran Hellenisme (Neo-Platonisme dan Aristotelianisme). Lihat Nurcholish Majid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995, hal. 218-234.

[33] Bernard Lewis, Muslim Menemukan Eropa, terj. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1988: lihat juga karyanya yang lain. The Arabs in History, New York: Harper Raw Publishers, 1966, hal. 115-130. Watak Islam inilah oleh Marshall Hodson dinilai telah menjadikan Islam sebagai agama yang sangat konstruktif membangun peradaban dunia. Lihat Marshall Hodson, The Venture of Islam, terj. Jakarta: Paramadina, 1999. Lihat juga Burns and Ralph, op. cit., hal. 404, dan W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia, Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, terj. Hendro Prasetyo, Jakarta: Gramedia, 1977.

[34] Dikutip dalam Nurcholish Majid, 1999, Islam Agama Kemanusiaan, Jakarta: Paramadina, 1995, hal. 46. Montgomery Watt mencatat kegiatan penerjemahan ini berlangsung selama sekitar dua abad. Di masa kekhalifahan Abbasiyah buku-buku ilmu pengetahuan Yunani diterjemahkan secara besar-besaran. Khalifah Al Ma’un (813-833) bahkan mendirikan lembaga penerjemahan bernama Bait al-Hikmah (‘balai kearifan’). Selama dua abad masa penerjemahan itu telah ratusan ribu naskah berbahasa Yunani, Syiria, Romawi, Ibrani, dan bahasa-bahasa non-Arab lainnya berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ini membuat perpustakaan-perpustakaan di zaman kekhalifahan Islam terisi oleh jutaan naskah buku ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya. Mengenai hal ini lihat W.Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terj. Jakarta: P3M, 1987, hal. 54-63.

[35] Garaudy, Janji, op. cit., hal.103-104. Lihat juga Watt, Islam, op. cit.,hal.88-92. Thoriq bin Ziyad, panglima perang Muslim, adalah Muslim pertama yang membuka pintu gerbang Eropa melalui Spanyol. Mengenai biografi penakluk Spanyol dan kisah penaklukan negeri itu lihat Syauqi Abu Khalil, Thoriq bin Ziyad, Pembuka Gerbang Eropa, terj. Pustaka Mantiq, 1989.

[36] Janji, ibid., hal. 103-104. Pengaruh Islam ini dijelaskan lebih jauh oleh Lewis: “Spanish Islam at its peak presented a proud spectacle. In Arabs enRiched the Life of the Peninsula in many ways: in agriculture They introduced Scientific Irriyation and a number of new crops including citrus fruits, cotton, sugar-cane and rice“ Lihat Lewis, The Arabs, op. cit., hal 127-130.

[37] Metode eksperimental yang dperkenalkan Roger Bacon dan Francis Bacon – yang sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan barat – merupakan salah satu contohnya. Kedua perintis metode eksperimental itu adalah alumni universitas-Islam Cordoba, Spanyol.

[38] Garaudy, Janji…, op.cit., hal. 98. Pemikiran Khaldun yang biasa dibaca dalam Fuad Baali, Society, State and Urbanism, State University of New York Press, 1988. Lihat juga A. Rahman Zainuddin, Kekuasaan dan Negara Pemikiran Politik Ibnu Khaldun, Jakarta: Gramedia, 1992.

[39] Ibid., hal. 102

[40] J.B. Bury, History of Freedom of Thought, London, New York, Toronto: Oxford University Press, 1952, hal. 50-51.

[41] Russell, History,op. cit., hal. 419. Diskusi menarik tentang pengaruh Rusyd dan dinamikanya di barat bisa dikaji dalam Seyyed Hossein Nasr, Pengetahuan dan Kesucian, terj. Suharsono, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 1997, hal.1-73.

[42] Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Djakarta: Penerbit Widjaya, 1951, hal. 325.

[43]Joseph R. Strayer, bahkan mengatakan bahwa peningkatan jumlah kaum terpelajar demikian cepat di abad XII telah menjadi stimuli (pendorong) munculnya negara-negara  bangsa di Eropa. Lihat Joseph R. Strayer, On The Medieval Origins of The Modern States, Princeton, New Jersey: Prinston Univ. Press, 1973, hal. 24.