PEDOMAN PENULISAN USULAN PENELITIAN DAN TESIS HUKUM

 

Tesis merupakan karya tulis ilmiah berupa uraian (penelitian) yang membahas permasalahan tertentu dalam ilmu hukum dengan menggunakan kaidah-kaidah hukum, dengan tujuan mencari pemecahan masalahnya. Tesis ini biasanya cukup hanya dengan mengkaji Middle Theory dan Aplied Theory. Tesis diajukan oleh mahasiswa yang bertujuan memperdalam atau mengembangkan teori, hasilnya biasanya merupakan pendalaman atau peneguhan teori yang telah ada sebelumnva. Tema yang diajukan oleh mahasiswa dapat disetujui apabila dianggap layak, baik secara subtansi maupun metodologi.

Tesis merupakan syarat untuk dinyatakan lulus dari Program Studi Magister dan menyandang gelar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tesis disusun biasanya di tujukan untuk menguji teori hukum tertentu, terhadap fenomena (gejala tertentu), baik fenomena teoritis maupun faktual.

 PERSYARATAN TESIS

Sebelum melakukan langkah penelitian, mahasiswa harus memenuhi prosedur administrasi dan akademik sebagai berikut:

  1. Memenuhi persyaratan administrasi keuangan dan administrasi akademik.
  2. Mengusulkan tema/topik (judul) yang akan dibahas kepada Ketua Program Studi, kemudian ketua program studi akan menetapkan siapa yang menjadi Pembimbing, Co Pembimbing.
  3. Membuat Usulan Penelitian sesuai dengan jenis karya ilmiah /Tesis .
  4. Mendaftarkan Usulan Penelitian dengan mengisi formulir yang telah disediakan oleh Program Pascasarjana yang selanjutnya akan ditetapkan tanggal Seminar Usulan Penelitian, ada Tim Penguji untuk setiap Usulan Penelitian yang masuk.
  5. Melaksanakan penelitian dan penyusunan Tesis, apabila Usulan Penelitian telah di seminarkan, dan telah dikoreksi serta disetujui oleh Tim Penguji.

Usulan Penelitian Tesis

Sistematika Usulan Penelitian Tesis adalah sebagai berikut:

  1. Latar belakang Penelitian
  2. Identilikasi Masalah
  3. Maksud dan Tujuan Penelitian
  4. Kegunaan Penelitian
  5. Kerangka Pemikiran / Teoretis
  6. Metode Penelitian
  7. Lokasi Penelitian
  8. Waktu Penelitian
  9. Biaya Penelitian (Pribadi / Lembaga)
  10. Sistematika Penulisan
  11. Daftar Rujukan/Daftar Pustaka

 

 

TESIS

Sistematika/ Kerangka (Outline ) Tesis disusun sebagai berikut:

LEMBAR SAMPUL (JUDUL)

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK (di tulis dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia )

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR, DAFTAR LAMBANG, DAFTAR SINGKATAN DAN LAMPIRAN. (jika ada)

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Penelitian
  2. Identifikasi Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Kegunaan Penelitian
  5. Kerangka Pemikiran/Teoretis
  6. Metode Penelitian
  7. Lokasi Penelitian
  8. Waktu Penelitian
  9. Biaya Penelitian
  10. Sistematika Penulisan.

 

BAB II. KAJIAN PUSTAKA (Diberi judul)

A.

B.

  1. dan seterusnva

 

BAB III HASIL PENELITIAN (Diberi Judul)

A.

B.

C dan seterusnya

 

BAB IV PEMBAHASAN (Diberi Judul)

A.

B.

C dan seterusnya

 

BAB V PENUTUP (Diberi Judul)

  1. Kesimpulan
  2. Saran

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN (jika ada)

Masing-masing bagian di atas sekurang-kurangnya memuat beberapa halaman  di bawah ini:

 

JUDUL

Mencerminkan isi/ materi penelitian yang mengandung konsep atau hubungan antar konsep yang menggambarkan gejala/ fenomena yang diteliti, serta metode penelitian yang dimuat pada lembar judul.

 

LEMBAR PENGESAHAN

Tanda persetujuan tim Pembimbing yang menyatakan bahwa tesis layak diujikan

 

LEMBAR PERNYATAAN

Lembar Pernyataan  ini berisi tentang:

  1. Tesis yang diajukan adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister dan atau doktor, di perguruan tinggi manapun)
  2. Tesis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian penulis sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing
  3. Dalam Tesis ini tidak terdapat karya-karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang atau dicantumkan dalam daftar pustaka.

 

ABSTRAK

Mencerminkan seluruh isi/ materi tesis dengan mengungkapkan intisari uraian tentang masalah penelitian, pendekatan yang digunakan atau kerangka pemikiran, metode penelitian, temuan penelitian, dan kesimpulan yang dibuat dalam dua versi bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia masing-masing antara 200 sampai dengan 500 kata diketik satu spasi.

KATA PENGANTAR

Mengemukakan intisari permasalahan penelitian, temuan penelitian, kesulitan sewaktu melakukan penelitian dan hal-hal yang memperlancar pelaksanaan penelitian serta penulisan tesis, termasuk di dalamnya juga menyatakan ungkapan rasa terima kasih kepada pelbagai pihak atas terlaksananya penelitian dan penulisan tesis.

 

DAFTAR ISI

Susunan isi tesis sesuai dengan tata urut atau sistematika penulisan tesis.  ‘Daftar Isi’ berisi hanya tajuk-tajuk sesudah ‘Daftar Isi’.

 

DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR, DAFTAR LAMBANG, DAFTAR SINGKATAN, DAN DAFTAR LAMPIRAN

Susunan tabel, gambar, lambang, singkatan dan lainnya secara sistematis yang terdapat dalam tesis.

 

BAB I PENDAHULUAN:

  1. Latar Belakang Penelitian:

Latar belakang harus memuat alasan-alasan dan kemampuan-kemampuan mengapa penelitian Tesis tersebut:

  1. harus dilakukan (should be done & should do-ability). Misalnya Tesis ini di buat karena hasilnya akan memberikan kontribusi pada pengembangan teori dan dunia penelitian yang relevan (teoritis), serta signifikansinya pada penentuan kebijakan dan praktek mengenai masalah yang sedang diteliti (praktis), atau penelitian tersebut dilakukan karena belum pernah dilakukan oleh penelitian lain.
  2. dapat diselenggarakan (can be done & do- ability). Misalnya terdapat teori dan metodologi yang relevan, tersedia waktu, dan secara etis tesis tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
  3. akan dilakukan (will be done & want-to-doability). Adanya komitmen penulis bahwa ia akan mengerjakan penulisan Tesis tersebut.

Beberapa butir di atas uraiannya harus disesuaikan atau memiliki relevansi dengan tema/ judul Tesis. Secara singkat bagaimana membuat latar belakang masalah dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Teliti dengan seksama berbagai perundang-. undangan yang berkaitan dengan topik / masalah yang dikaji : kekuatan dan terutama kelemahan kelemahannya
  2. Teliti juga dengan nalar tinggi, berbagai asas, konsep, teori, paradigma yang mendasari perundang-undangan termaksud. Setelah itu baru dikaji penerapan perundang-undangan itu in concreto sesuai atau menyimpang ? Disertai dengan faktor -faktor non hukum (yuridikal) yang mungkin ikut serta mempengaruhi / melandasi timbulnya masalah itu.

2. Identifikasi Masalah:

Masalah adalah pertanyaan-pertanyaan yang dicoba untuk ditemukan jawabannya. Masalah dapat juga diartikan sebagai penyimpangan (deviation) atau kesenjangan (gap) antara:

  1. apa yang seharusnya (das sollen) dan apa yang pada kenyataanya terjadi (das sein);
  2. antara rencana dan pelaksanaan
  3. antara harapan dan kenyataan
  4. antara cita-cita dan apa yang dicapai
  5. antara tujuan dan pencapaian

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masalah, adalah penyimpangan dari keharusan, rencana, harapan, cita-cita atau tujuan, sehingga menimbulkan pelbagai pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban, jawaban atas pertanyaan tersebut diharapkan dapat diperoleh melalui suatu penelitian.

Dalam identifikasi masalah, mahasiswa harus berusaha memaparkan masalah dengan memuat enam (6) unsur atau dengan istilah 5 W 1 H yaitu:

  1. siapa (who) pihak yang terlibat dalam masalah tersebut
  2. apa (what) penyimpangan / pertanyaan dalam masalah tersebut
  3. di mana (where) masalah tersebut terjadi
  4. bilamana (when) masalah tersebut timbu1
  5. mengapa (why) masalah tersebut dapat terjadi
  6. bagaimana (how) timbulnya masalah tersebut.

Keenam unsur di atas tidak selalu mutlak ada dalam pemaparan masalah penelitian. Unsur-unsur yang dipaparkan tergantung dari masalah penelitian yang telah dipiih. Perumusan masalah penelitian harus dirumuskan secara sederhana, lugas dan lengkap, serta tidak menimbulkan berbagai macam persepsi (penafsiran) terhadap istilah-istilah yang digunakan. Adapun rumusannya dapat dikemukakan baik dalam bentuk pertanyaan maupun  pernyataan. Rumusan masalah yang baik sedapat mungkin harus:

  1. menyatakan hubungan antara 2 (dua) variabel /gejala
  2. dinyatakan secara jelas dan tidak mengandung keraguan
  3. menyiratkan kemungkinan untuk diverifikasi.

Pemilihan jenis dan jumlah permasalahan yang akan diteliti harus mempertimbangkan waktu, kompetensi dan biaya yang tersedia. Tahapan penyusunan Identifikasi masalah dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Di alirkan secara runtut dari uraian yang dikembangkan pada Latar Belakang:
  2. Mempertanyakan yang berkaitan dengan aturan hukum positifnya
  3. Berkaitan dengan berbagai asas, konsep, teori atau paradigma
  4. Berkaitan dengan penerapan aturan hukum tersebut oleh para praktisi hukum/ aparatur hukum.

 

3. Tujuan Penelitian

Menguraikan tujuan apa yang hendak dicapai dalam penelitian. Tujuan penelitian harus berkorelasi dengan identifikasi masalah. Untuk lebih jelasnya persoalan tersebut dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:

Misalnya:

Identifikasi masalah merumuskan “kendala apa yang muncul dalam pembinaan narapidana di Lemhaga Pemasyarakatan “, Tujuan penelitian hendaknya “mencari altematf  pemecahan masalah dalam melakukan pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan”.

Menyusun Identifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Point yang disampaikan sama banyaknya dengan apa yang diidentifikasikan/ dirumuskan pada identifikasi/ perumusan masalah.
  2. Dimulai dengan kata-kata “meneliti…. atau mengkaji… dan lain-lain.
  3. Jadi bukan hanya sekedar ingin mengetahui yang kontribusi hasil penelitiannya hanya bermanfaat bagi penelitinya saja

 

4. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian mencakup baik kegunaan teoretis maupun praktis. Kegunaan teoritis berkait dengan pengembangan keilmuan (teori), serta harapan-harapan yang dapat dicapai, sedangkan kegunaan praktis berkorelasi dengan kamampuan aplikasi teoritis mahasiswa dalam kenyataannya, atau dengan kebijakan lembaga tertentu, misalnya bagi Instansi pemerintah, atau swasta.

(catatan : beberapa penelitian mencantumkan sebagai sub-bab tersendiri).

 

5. Kerangka Pemikiran

Memuat landasan teoretik yang akan dijadikan kerangka berfikir ilmiah dan kerangka operasionalisasi penelitian. Kerangka pemikiran ini memuat teori yang dijadikan pijakan peneliti. Pada tahap ini peneliti dituntut untuk terampil, mengiventarisir, memilih (memilah) teori mana yang dapat dijadikan kerangka teoritik. Pada tahapan ini kualitifikasi Grand Theory, Middle Theory dan Aplied Theory harus jelas

Contoh,

Apabila penelitian akan membahas mengenai tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan ketatanegaraan (misalnya di Indonesia) maka sebagai landasan teorinya dapat digunakan teori Stufend des Recht dan Hans Kelsen atau teori lain yang sejenis, terutama teori-teori dan aliran positivistik.

Atau apabila hendak membahas mengenai perkembangan Pendidikan Hukum dan Pembaharuan Hukum di Indonesia, dapat digunakan teori hukum dari Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Teori Hukum Pembangunan.

Dalam kerangka pemikiran uraian teori, asas, kaidah dan aturan hukum positif harus memiliki korelasi (memiliki benang merah) dengan obyek penelitian. Landasan teoritis ini perlu ditegakkan agar penelitian itu memiliki dasar yang kokoh. Informasi bersumber dari penelaahan kepustakaan yang mutakhir dan erat kaitannya dengan masalah yang akan diteliti.

 

6. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah prosedur atau cara memperoleh pengetahuan yang benar atau kebenaran melalui langkah-langkah yang sistematis.

Dalam uraian ini dimuat dengan jelas metode penelitian yang digunakan peneliti. Penggunaan metode berimplikasi kepada teknik pengumpulan dan analisis data serta kesimpulan penelitian.

Lazimnya pada bagian ini minimal memuat halaman sebagai berikut:

  1. Metode Pendekatan:

Secara jelas diuraikan metode pendekatan apa yang digunakan dalam penelitian.

Pendekatan yang dapat dilakukan terhadap ilmu hukum di antaranya:

  1. Pendekatan yuridis-normatif; yaitu hukum dikonsepsikan sebagai norma, kaidah, asas atau dogma-dogma. Pendekatan yuridis normatif dikenal pula dengan istilah pendekatan/ penelitian doktrinal atau penelitian hukum normatif. Tahap penelitian Yuridis Empiris, melalui studi kepustakaan (penelaahan terhadap literatur,. Namun sepanjang diperlukan, dapat dilakukan interview untuk melangkapi studi kepus takan. Termasuk ke dalam kajian / pendekatan Yuridis Normatif di antaranya adalah sejarah hukum dan pembandingan hukum, juga filsafat hukum.
  2. Pendekatan yuridis-empirik, yaitu hukum sebagai gejala masyarakat, sebagai institusi sosial atau perilaku yang mempola. Pendekatan ini dikenal dengan penelitian hukum yang empirik atau penelitian hukum sosiologis. Termasuk ke dalam pendekataan yang dapat dikategorikan pendekatan empirik antara lain misalnya, pendekatan Kriminologis, yuridis antropologis, yuridis-psikologis, Yuridis-ekonomis dan lain-lain. Pendekatan empirik terkadang juga dapat bersifat inter dan multi disipliner

 

  1. Teknik Pengumpulan Data dan Alat Pengumpul Data

Diuraikan bagaimana teknik serta alat yang digunakan dalam pengumpulan data. Teknik merupakan penerapan dari metode untuk dapat menimbulkan suatu akibat yang dikehendaki. Sementara alat adalah sarana yang dipergunakan. Teknik dan alat pengumpulan data yang dilakukan bergantung pada pendekatan yang dilaksanakan oleh peneliti.

Untuk pendekatan yuridis-normatif. teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelaahan data yang dapat diperoleh dalam peraturan perundang-undangan, buku teks, jumal, hasil penelitian, ensiklopedi, bibliografi dan indeks kumulatif dan 1ain-1ain Pada dasamya teknik pengumpulan data dengan pendekatan ini dilakukan terhadap literatur tertulis (‘kepustakaan). Teknik ini dapat dilakukan melalui pengklasifikasian dan pencatatan yang rinci (dianggap lengkap), sistematis dan terarah mengenai dokumen/ kepustakaan. Kemudian Interpretasi/ Gramatikal, Otentik, dan sistematik) dan Konstruksi Hukum (‘Analogi dan argumentum acontrario) bisa dilakukan.

Untuk pendekatan juridis-empirik (Sosiologis, Ekonomis, Anthropologis dan lainnya) teknik pengumpulan data dilakukan terhadap data dan bahan non hukum. Data tersebut dapat berupa data hasil penelitian (langsung) dari lapangan atau data hasil penelitian pihak lain yang berkaitan dan sudah teruji secara ilmiah.

Teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan khususnya guna memperoleh data lapangan (non Hukum) diantaranya melalui metode tes, observasi, kuesioner, interview dan dokumentasi, sedangkan alat untuk pengumpulan data dapat dirinci sebagai berikut:

    1. Untuk metode tes , digunakan berbagai jenis test, baik yang standar (sudah ada) ataupun tes buatan (oleh peneliti).
  1. Untuk Observasi digunakan catatan lapangan (catatan berkala), Anecdotal record (Daftar riwayat), Check List, Rating Scale, Mechanical Devices, atau Studi kasus terhadap fenomena yang dapat ditangkap.
  2. Untuk Interview, digunakan Directive Interview atau pedoman wawancara terstruktur, Non Directive Interview, atau pedoman wawancara bebas. Penggunaan tape recorder sangat diperlukan dalam teknik pengumpulan data ini.
  3. Untuk metode kuesioner digunakan berbagai bentuk kuesioner, misalnya, kuesioner tipe isian (Open and Closed from Item) dan kuesioner tipe pilihan (Forced and Multiple Choice).

 

  1. Metode Penentuan Sampel:

Bagi penelitian yang menggunakan pendekatan yuridis-empirik, perlu dilakukan penentuan sampel. Pengambilan sampel merupakan suatu proses dalam memilih suatu bagian yang representatif dan sebuah populasi. Hal ini dilakukan karena banyak alasan, baik dari segi ekonomis, maupun keakuratannya. Penentuan sampel tidak akan mengurangi nilai ilmiah suatu penelitian.

Terdapat beberapa teknik penentuan sampel yaitu:

  1. Teknik Random Sampling ; dengan cara undian atau lotere, cara ordinal, randomisasi dari tabel bilangan random, multistage sampling.
  2. Teknik Non-Random Sampling ; quota sampling, accidental sampling, purposive sampling.

 

  1. Analisis Data:

Analisis dapat dirumuskan sebagai suatu proses penguraian secara sistematis dan konsisten terhadap gejala-gejala tertentu. Dari pengertian yang demikian, nampak analisis memiliki kaitannya erat dengan pendekatan masalah.

 

Lazimnya dalam penelitian hukum normatif, data dianalisis secara kualitatif yaitu analisis dengan penguraian deskriptif analitis dan preskriptif Dalam melakukan analisis kualitatif yang bersifat deskriptif dan preskriptif ini, penganalisisan bertitik tolak dan analisis yuridis sistematis. Di samping dapat pula di kombinasikan dengan analisis yuridis historis dan komparatif.

Untuk penelitian yuridis-emprik di samping dapat dilakukan analisis kualitatif sebagaimana disebutkan di atas juga dapat dilakukan analisis kuantitatif (terhadap data yang bersifat kuantitatif) dengan penyajian tabel, diagram maupun kurva.

 

  1. Waktu Penelitian

Dijelaskan untuk berapa lama penelitian akan dilakukan, dibuat dalam schedule time, sehingga setiap langkah penelitian tergambar dengan jelas, berapa lama mempersiapkan penelitian, melakukan penelitian lapangan dan juga hasil penelitian.

 

   2. Lokasi Penelitian

Dijelaskan Lokasi penelitian secara rinci, di wilayah mana penulis melakukan penelitian, khusus untuk penelitian empirik lokasi penelitian harus disertai dengan data atau gambaran lokasi penelitian / peta Lokasi.

 

 

   3. Biaya Penelitian

Diberikan penjelasan secara detil apakah penelitian tesis yang di1akukan dibiayai oleh Instansi tertentu atau tidak. Apabila tidak dibiayai oleh lembaga tertentu maka biaya penelitian tidak harus ada (tidak perlu dicantumkan) dalam penyususunan Usulan Penelitian juga dalam Tesis.

 

7. Sistematika Penulisan:

Sistematika penulisan, memuat uraian dan penjelasan secara singkat dan sistematis mengenai keseluruhan uraian skripsi, mulai dari bab pertama sampai kepada bab terakhir. Sistematika penulisan berbeda dengan daftar isi.

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dalam Kajian Pustaka obyek bahasan harus di introdusir kedalam judul bab. Bagian ini memuat teori-teori atau doktrin, konsep-konsep yang relevan dengan thema skripsi dan permasalahan hukum yang akan diteliti. Teori ini memiliki keterkaitan dengan kerangka pemikiran namun bukan kerangka pemikiran. Teori-teori harus bersumber dari buku teks, jurnal, atau seri penerbitan sains lainnya, termasuk kedalamnya hasil-hasil penelitian. Uraian teori-teori harus memiliki keterkaitan dengan masalah yang diteliti.

 

BAB IlI  HASIL PENELITIAN

Memuat data yang diperoleh dari penelitian, dapat berupa data sekunder maupun data non hukum. Data sekunder (data kepustakaan) diperoleh apabila penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif, sedangkan data non hukum diperoleh apabila mahasiswa menggunakan penelitian hukum empirik. Mahasiswa dapat pula menggunakan keduanya (data sekunder dan data non hukum), dengan klasifikasi bahwa salah satu data tersebut merupakan data penunjang.

 

BAB IV  PEMBAHASAN

Bagian ini merupakan inti Tesis, memuat seluruh permasalahan (hukum) yang telah diidentifikasi, kemudian dianalisis satu persatu secara tuntas dan sistematis, dan memiliki keterkaitan dengan tinjauan pustaka. Oleh karena itu sebaiknya uraian ini terbagi dalam beberapa sub-bab sesuai dengan identifikasi masalah pada bab I (satu). Pada bagian analisis juga harus konsisten dengan kerangka pemikiran yang dijadikan landasan berpijak serta konsisten dengan metode penelitian yang digunakan.

 

BAB V  PENUTUP

Menyatakan pemahaman peneliti tentang masalah yang diteliti berkaitan dengan tesis berupa kesimpulan dan saran.

  • Kesimpulan

Kesimpulan merupakan jawaban peneliti terhadap permasalahan hukum yang diidentifikasi (identifikasi masalah). Kesimpulan harus menunjukan benang merah antara idenitifikasi masalah dan analisis pada pembahasan.

 

  • Saran,

Saran merupakan uraian yang dikemukakan peneliti terhadap berbagai persoalan yang tidak dapat dijawab oleh kesimpulan, saran dapat merupakan usulan atau tanggapan (komentar) terhadap persoalan untuk dicarikan jalan keluamya. Oleh karena itu saran bersifat lebih prediktif (mengarah kepada perbaikan di masa akan datang).

 

DAFTAR PUSTAKA

Dalam daftar pustaka dicantumkan secara lengkap kepustakaan yang dipergunakan, dapat baik yang terdiri dan bahan hukum primer (mis. peraturan perundang-undangan dan lain-lain) atau bahan hukum sekunder (hasil-hasil peneiltian, jurnal ilmiah, seri penerbitan sain) juga dapat dari bahan hukum tersier (mis. Bibliografi, indeks Kumulatif dan lain-lain). Susunlah sumber yang digunakan secara sistematis sebagaimana dalam tata cara penulisan footnote.

 

BEBERAPA TATACARA PENULISAN TESIS

  1. Pemberian Abjad atau Penomoran

Pemberian abjad atau penomoran dilakukan sebagai berikut :

Untuk tulisan bab yang ditulis sebagai awal bab, ditempatkan ditengah pada bagian atas kertas, dengan menggunakan huruf besar, ditulis BAB  I, BAB  II, BAB  III, dst.

Setelah penulisan BAB I untuk pemberian abjad apabila terdapat sub judul bab maka ditulis selanjutnya dengan huruf A,B,C dan seterusnya, pemberian abjad harus berurutan. Apabila dari sub bab masih ada bagian sub-sub bab maka ditulis angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Apabila masih terdapat bagian lain yang memerlukan pemberian abjad di gunakan a, b, c, dst. Apabila masih ada digunakan, 1), 2), 3), a). b), c) dst.

 

  1. Pemberian nomor halaman/ Penomoran.
  2. Pemberian nomor pada halaman pertama (depan) yang terdapat Judul bab, atau halaman pertama pada bab baru, nomor di simpan pada tengah kertas bagian bawah.
  3. Untuk halaman selanjutnya nomor disimpan pada bagian kanan atas

 

  1. Ukuran Kertas, Spasi penulisan, dan ukuran huruf.
  2. Kertas yang digunakan dalam penyusurtan Tesis adalah kertas kwarto A4.
  3. Untuk penulisan dalam bentuk konsep (masih dalam perbaikan) tidak ditentukan gram kertas, sedangkan untuk penulisan yang sudah jadi (siap cetak) digunakan kerta ukuran 70-80 gram.
  4. Spasi penulisan, digunakan ukuran sebagai berikut:
  1. Spasi atas sampai kepada penulisan digunakan 4 cm, atau ukuran 4 (empat) pada page set lip komputer.
  2. Spasi kiri digunakan 4 cm, atau ukuran 4 (empat) pada page set up computer
  3. Spasi hawah sampai kepada tulisan digunakan 3 cm, atau ukuran 3 (tiga) pada page set up komputer
  4. Spasi kanan sampai kepada tulisan digunakan 3 cm, atau ukuran 3 (tiga) pada page set up
  5. Ukuran spasi perhuruf digunakan 2 spasi. Untuk Abstrak digunakan 1
    1. Ukuran huruf yang digunakan, hendaknya berukuran standar pada mesin tik biasa, atau ukuran 12 (dua belas) untuk huruf tipe time new romans dalam komputer, atau 14 (empat belas) untuk huruf yang lebih kecil dari time new romans.
    2. Untuk huruf dalam sub bab digunakan huruf yang lebih besar dan ukuran huruf pada uraian. Sedangkan untuk huruf judul bab digunakan lebih besar dari ukuran huruf sub bab. Misalnya, huruf uraian berukuran 12. Untuk sub bab dapat 13 atau 14 dan untuk judul bab, dapat 13 atau 16. Sedangkan untuk penulisan yang menggunakan mesin tik biasa standar, dapat digunakan pembedaan melalui huruf besar, atau digaris dan dicetak tebal.
    3. Untuk huruf yang dijadikan kutipan misalnya pengutipan yang lebih dari lima baris maka huruf kutipan lebih kecil dan uraian umum mis. Uraian menggunakan huruf berukuran 12 (komputer) maka kutipan dapat digunakan ukuran 11 atau 10 (komputer).

 

  1. Tatacara “Pengutipan”

Sistem pengutipan yang digunakan adalah sistem footnotes, tidak menggunakan sistem runningnotes. Footnotes, adalah catatan kaki halaman untuk menyatakan sumber suatu kutipan, buah fikiran fakta-fakta atau ihktisar. Footnotes juga dapat berupa komentar atas suatu teks yang dikemukakan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sehagai berikut:

  1. Penomoran footnotes dimulai dengan nomor 1 dari Bab I secara berlanjut untuk bab-bab benikutnya.
  2. Bentuk footnotes, adalah sebagai herikut:

Buku:

  1. Nomor footnotes agak diangkat sedikit di atas baris, tetapi tidak setinggi satu spasi (untuk mereka yang menggunakan mesin tik standar), sedangkan untuk mereka yang menggunakan komputer sistem ini akan berlangsung otomatis. Nomor footnotes jauhnya 7 pukulan tik dari garis margin teks sebelah kiri. Kalau footnotes lebih dari dua baris, baris kedua dan seterusnya dimulai pada margin teks.
  2. Pangkat atau gelar tidak dicantumkan. Pemuatan nama dimulai dari nama (depan) kecil kemudian nama akhir.
  3. Judul buku diberi garis dan dicetak miring;
  4. Penulisan footnotes dengan urut-urutan sehagai berikut: Nama Pengarang, Judul Buku, nama penerbit, kota penerbit, tahun terbitan, halaman yang dikutip.
  5. Pengarang lebih dari satu (misalnya dua atau tiga), maka nama pengarang harus dicantumkan seluruhnya.
  6. Untuk pengarang lebih dari tiga orang, dicantumkan pengarang pertama dan dibelakangnva ditulis dalam kurung (et al) singkatan dari et alii artinya “dengan orang lain’.
  7. Kumpulan karangan, yang dicantumkan cukup nama editornya saja, dibelakangnya (ed).
  8. Untuk buku yang tidak terdapat nama pengarangnya, cukup disebut (ditulis) nama badan, lembaga, perkumpulan, perusahaan, dsb.
  9. Bila buku tersebut terjemahan, pengarang asli harus dicantumkan kemudian dibelakangnya nama penterjemah.

 

 

Contoh:

  1. Anthon F. Susanto, Mengenal Hukum Adat Jawa Barat, Alumni, Bandung, 1998, hlm. 25.
  2. Robert S. Woodworth dan Donald G. Marquis, Psychology, Henry Holt and Company, New York, 1947, hlm. 56.
  3. Florence B. Stratemeyer, (et at), Developing a Curriculum for Modern Living, Bureu of Publications Teachers College, Columbia University, New York, 1957, hlm. 57-58.
  4. Donald P. Cottereli (ed), Teacher Education for a Free People, The American Association of Colleges for Teacher Education, New York, 1956, hlm. 220.
  5. Fakultas Hukum Unpad, Buku Panduan Akademik, Alumni, Bandung, 2001, him. 5.

 

 

Majalah

Untuk majalah yang diberi huruf miring adalah nama majalahnya, lihat contoh berikut :

  1. Mochtar Naim, “Mengapa Orang Miming Merantau?” Tempo, 31 Januari 1975, hlm. 36.

Karangan Yang Tidak Diterbitkan

  1. Anthon Freddy Susanto, “Makna Reaiitas Kontrol Sebagai Konstruksi Sosial”, Tesis, Perpustakaan Fakultas Hukum Undip Semarang, hlm. 25.

 

Hasil Interview (wawancara )

  1. Wawancara dengan Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung, 15 September 2001.

 

Bahan Yang Dikutip

  1. William H. Burton, The Guidance of Learning Activities, D. Appleton-Century Company, Inc., New York, 1952, hlm.186, dikutip dari Ernest Hilgard, Theories of Learning, Appleton, New York, 1948, hlm. 37.

 

  1. Mempercepat Pengutipan dengan Footnotes
  2. Pemakaian Ibid

Ibid kependekan dan ibidem yang artinya pada tempat yang sama, dipakai apabila suatu kutipan diambil dan sumber yang sama dengan yang langsung mendahuluinya dengan tidak disela dengan sumber lainnya.

  1. Pemakain op.cit

Op.cit, singkatan dan opere citato artinya “dalam karangan yang telah disebut”, dipakai untuk menunjuk kepada suatu buku yang telah disebut sebelumnya lengkap pada halaman lain dan telah diselingi oleh sumber lain.

Apabila nama pengarang sama, buku yang dikutip lebih dari satu, untuk menghindari kesalahan sebutkan sebagian dari judul buku tersebut.

  1. Loc.cit

Loc.cit singkatan dan loco citato artinya “pada tempat yang telah disebut”. Digunakan untuk menunjuk kepada halaman yang sama atau persoalan yang sama dan suatu sumber yang telah disebut.

 

Contoh:

  1. Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Jembatan, Jakarta, 1958, hlm.9.
  2. Ibid, hlm. 27.
  3. Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, Djambatan, Jakarta, 1958, hlm. 32.
  4. F. Beerling, Filsafat Dewasa ini, Balai Pustaka, Jakarta, 1951, hlm. 23.
  5. Muhammad Yamin, cit. hlm. 33.
  6. Soepomo, loc.cit.

 

  1. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan
  2. Nama undang-undang ditulis iengkap sesuai dengan judulnya
  3. Penulisan pasal : contoh: Pasal 5 ayat (1) “P” besar serta angka ayat di antara tanda kurung. Mengingat Pasal 1 umumya merupakan pasal berisikan pengertian, maka pasal tersebut tidak mempunyai “ayat” akan tetapi “butir”.
  4. Peraturan perundangan, seharusnya peraturan perundang-undangan.
  5. Penulisan “di” digabung apabila merupakan awalan kata kerja seperti “diatasi”. “Di atas” dilepas karena bukan awalan kata kerja.
  6. Penulisan kata majemuk “aneka ragam” dilepas, akan tetapi “keanekaragaman” digabung, karena ada awalan “ke” dan akhiran “an”.
  7. Kata “analisys” seharusnya “analisis”, karena yang diambil dalam transformasi ke dalam bahasa Indonesia adalah pengucapannya dalam bahasa Inggris: analysis, bukan bahasa Belanda : analyse. Demikian pula “sistem” (bahasa Inggris : system), bukan “sistim” (bahasa Belanda : systeem”).
  8. Penulisan “…ir” seperti “diinventarisir” dari kata Belanda “inventariseren” harus diganti menjadi “diinventarisasi” dari kata Inggris “inventarization”.

Demikian juga dengan ploklamir menjadi proklamasi, introdusir menjadi introduksi, eksploitir menjadi eksploitasi dan segalanya.

  1. Penulisan “kwalitas”, menjadi “kualitas”, karena tidak boleh ada dua huruf mati berurutan, dengan beberapa pengecualian, di antaranya kata “sanksi” tidak boleh sangsi, yang mempunyai pengertian lain.
  2. Penulisan “resiko” menjadi “risiko”, “tehnik” menjadi “teknik”, “azas” menjadi “asas”.
  3. Penulisan “efektip, produktip, negatip” huruf “p”nya diganti dengan “f” menjadi “efektif, produktif, negatif” karena bangsa indonesia mengenal dan dapat mengucapkan huruf :“ f”.
  4. Kata “f” memakai “f”, akan tetapi apabila berubah menjadi “aktivitas” huruf “f” beruhah menjadi “v”.
  5. Kata “peruntukan” ditulis dengan satu “k”, yaitu awalan pe dan akhiran an, akan tetapi “diperuntukkan” ditulis dengan dua “k” karena di sini dengan awalan di dan akhiran kan.
  6. Kata “data-data” adalah keliru, karena “data” adalah jamak dari kata “datum” yang tunggal.
  7. Kata “yang mana, di mana” perlu diganti.
  8. Perlu diperhatikan bentuk kalimat aktif dengan menggunakan kata kerja dengan awalan “me” serta kalimat pasif dengan menggunakan awalan “di”, seperti “Dalam Pasal 5 dinyatakan .. .“ dan “Pasal 5 menyatakan , jadi bukan “Dalam Pasal 5 menyatakan
  9. Penulisan “nonhayati” digabung karena kata “non” tidak berdiri sendiri.
  10. Dalam karya ilmiah dihindari kata seperti “tidak karuan, seenaknya” yang digunakan sebagai ungkapan sehari-hari.
  11. Penggunaan “adalah merupakan” perlu dipilih satu, karena kedua-duanya adalah
  12. Gelar tidak digunakan dalam naskah maupun dalam daftar pustaka.

Dapat digunakan dalam ucapan terima kasih.

  1. Penulisan referensi dapat dilaksanakan dengan menggunakan sistem catatan kaki (footnote) atau dimasukkan dalam teks di belakang kutipan (nama penulis, tahun penerbitan : halaman).

Pilih di antara keduanya, tidak boleh dicampur.

21.Penomoran dapat dilakukan dengan sistem digital atau penggunaan huruf dan angka dengan urutan: 1, A, 1., a., 1), a), (I), dan (a).

Pilih di antara keduanya, tidak boleh dicampur.

  1. Hindari kata seperti “sangat perlu sekali” yang bersifat berlebihan.
  2. Kata “konsepsional” adalah dan kata Belanda “conceptioneel”, sebagaimana juga kata “konsepsi” dari kata Belanda “conceptie”.

Adalah lebih tepat menggunakan kata “konseptual” dari kata lnggris “conceptual”, sebagaimana juga kata “konsep” dari kata Inggris “concept”.

  1. Penggunaan bentuk jamak “saran-saran” tidak perlu, karena “saran” mengandung makna tunggal maupun jamak.
  2. Pengunaan tanda baca – hanya untuk pemenggalan kata.

Dengan demikian tidak digunakan untuk meluruskan garis kanan dan atas ke bawah (“kosmetika”), juga tidak digunakan untuk penomoran.

  1. Mengingat program komputer pada umumnya adalah program bahasa lnggris, perlu diperhatikan pemenggalan kata bahasa Indonesia yang tidak dikenal oleh program komputer.

Caranya adalah dengan menggeser kata kedua, kata ketiga dan seterusnva dan baris yang mengandung kesalahan pemenggalan sampai diperoleh pemenggalan yang benar menurut bahasa Indonesia.

  1. Kata “sedangkan, sehingga, dan” tidak dapat digunakan sebagai awal kalimat, karena merupakan kata penghubung.
  2. Penggunaan kata “saya, kami, kita” dalam penulisan karya ilmiah sejauh mungkin dihindarkan, diganti dengan “penulis”, “peneliti” atau digunakan kalimat pasif (awalan di).
  3. Sub-judul tidak holeh ditulis di bagian bawah halaman, akan tetapi harus dipindahkan ke halaman berikutnya.
  4. Kata “daripada” hanya digunakan apabila ada tandingannya, tidak boleh untuk menyatakan kepunyaan.
  5. Tidak perlu memulai kalimat dengan kata “bahwa”, yang hanya dipakai sebagai permulaan konsiderans.
  6. Antara sumber kutipan dalam naskah dan daftar pustaka, harus ada hubungan timbal balik; yang ada dalam daftar pustaka ditemukan sebagai sumber dalam naskah dan yang dikutip dalam naskah terdapat sumbemya dalam daftar pustaka.
  7. Guna memperoleh kalimat lengkap, perlu senantiasa diadakan “analisis ka1imat” yang berarti hahwa perlu dalam benak pikiran diadakan penyederhanaan kalimat, agar terlihat dengan jelas apa yang menjadi predikat dan apa yang menjadi subyek. Yang dapat menjadi predikat adalah selalu kata kerja yang berjumlah satu. Yang dapat menjadi subyek adalah selalu kata benda yang berjumlah satu.
  8. Perlu dihindari pembuatan kalimat yang panjang-panjang, sehingga menjadi tidak jelas makna kalimat karena mengandung berbagai pikiran menjadi satu. Seyogyanya satu pokok pikiran dituangkan dalam satu kalimat.
  9. Penempatan tanda baca selalu “menempel” pada huruf atau angka, tidak berdiri sendiri, seperti (“ekolabel”), tidak boleh ditulis dengan spasi seperti “(ekolabel)’, atau “tahun 1996”. Tidak boleh ditulis dengan spasi “1996”. Dengan demikian dihindarkan adanya tanda baca yang pindah ke baris berikutnya, terlepas dari kata atau angka sebelumnya. Sebaliknya, penggunaan tanda baca, selalu diikuti dengan spasi, seperti setelah titik, koma, kurung tutup dan sebagainya.

 

*** Semoga Bermanfaat dari berbagai sumber***